Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Detik-detik malam

Di hening malam. 
Suara-suara penyerunya telah Dia perdengarkan dalam kesunyian. Membawa lelap tubuh lemah ini, mengantarkan jiwa kembali ke pada-Nya, dan menuju pagi.
Terhentak, dan terbangun. Suasana begitu lengang, pikiran mengambang menikmati suara malam. Sejenak menemukan diri lepas dari segala penat di pagi hingga sore hari. Membersihkan diri dari segala peluh dan carut marut problematika pekerjaan yang mulai bosan menunggu antrian, sudah kusut. Kunikmati detik demi detik milikku malam ini, mensyukuri karunia malam dari-NYa. 

Menikmati Ceramah Agama

Setelah sebulan lebih, akhirnya saya bisa menulis lagi, mencoba untuk berbagi informasi. Saya awali tulisan dengan cerita tentang shalat Tarawih 1432 H yang saya ikuti di suatu Masjid di Kota Makassar, ini saya angkat di blog karena isi ceramahnya yang sangat menarik hatiku untuk berkomentar. Ceramah disampaikan selama hampir 25 menit oleh seorang Muballiq yang intonasi suaranya mirip dengan K.H Zainuddin MZ , dia begitu sukses menirukannya.

Idul Qurban: Menyembelih “Kebinatangan” Manusia

Jika tidak ada halangan dan Insyah Allah pada hari Minggu 6 November 2011, kita umat Islam di Indonesia merayakan Hari Raya Idul Adha 1432 H. Pada hari itu kita akan melaksanakan Shalat Id, dan dilanjutkan dengan proses penyembelihan hewan qurban. Sekedar renungan singkat, berikut ini saya akan menuangkan dalam tulisan makna Qurban dengan menyembelih binatang hewan qurban sebagai ihtiar untuk menyembelih dan membunuh perilaku kebinatangan manusia.

Interaksi

Agama dinamai Din, dan kata ini dalam berbagai bentuknya menggambarkan dua pihak, yang satu lebih tinggi dari yang lain, itu dalam konteks hubungan antara Tuhan dan manusia, tetapi secara umum interaksi antar manusia itu, betapapun berbeda-beda tingkatnya namun seharusnya dia sederajat, karena manusia semuanya sederajat. Tidak ada perbedaan antara seseorang dengan yang lainnya, antara lelaki dan perempuan, ataupun anak kecil dan orang dewasa dari segi kemanusiaan.  

Agama adalah interaksi, semakin baik interaksi anda dengan seseorang semakin baik pula keberagamaan anda, dan semakin buruk interaksi anda maka semakin buruk pula keberagamaan anda.

Mari kenali diri kita


be the best whatever you are
if you can’t be a pine on the top of the hill,
be a scrub in the valley, but be
the best little scrub by the side of the rill;
be a bush if you can’t be a tree.
if you can’t be a bush be a bit of the grass,
and some highway happier make;
if you can’t be a muskie then just be a bass
but the liveliest bass in the lake!

Dipopulerkan oleh Martin Luther King

Salam. Apa kabar kawan? mudah-mudahan baik.
Alhamdulillah, kemarin saya sudah mulai menulis lagi, dan hasilnya dapat di posting hari ini. Sudah hampir satu caturwulan saya tidak menulis, waktu yang cukup lama untuk berhibernasi. Ada seorang yang kini menjadi sumber inspirasi, kedamaian, dan kekuatan.

Adakah orang yang berdoa untuk kita

Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke. Sudah 7 malam dirawat di RS di ruang ICU. Di saat orang-orang terlelap dalam mimpi malam, dalam dunia roh seorang malaikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya.
Malaikat memulai pembicaraan, "Kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup. Dan sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal dunia!
"Kalau hanya mencari 50 orang, itu mahgampang .. . " kata si pengusaha ini dengan yakinnya. Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati. Tepat pukul 23:00,

Tentang Dia

Saya masih juga terjaga, walau jarum jam terus berdetak tanpa henti. Deringnya mengingatkan saya bahwa hari telah berganti. Sudah senyap sebenarnya, tapi rangkaian lagu-lagu bajakan terus mengalun dari laptop ku. Ah, betapa sebuah lagu itu dapat mempengaruhi suasana hati.

Tulisan ini buatku Tersenyum

Ada seorang petani yang menderita karena sawah dan ladangnya terkena hama. Alih-alih mendapat panen berlimpah, ia malah kehabisan uang dan makanan meski sudah berhemat semaksimal mungkin. Setelah berpikir sekian lama, akhirnya ia memutuskan untuk menulis surat kepada tuhan lalu mengeposkannya.

Status Facebook: Dia yang Update, Dia juga yang “Like it”

Saya tidak tahu apakah saya yang kurang pukerjaan (kuper) atau orang lain yang aneh, saya kok sering merasa geli kalau melihat status atau posting seorang teman di Facebook. Yang membuat geli adalah jika si Facebooker yang bersangkutan membuat suatu status atau posting, tapi dia juga yang jadi orang pertama  yang “Like it” atau “Like this”.

Mahasiswa itu adalah Einstein

Mungkin tulisan ini diantara kalian sudah ada yang pernah membacanya, namun  saya menulisnya lagi karena tulisan ini adalah salah satu yang memberi saya motivasi untuk belajar fisika.
Seorang Profesor sedang memberi kuliah di dalam suatu ruang kelas . Di dalam ceramahnya dia bertanya kepada mahasiswanya. Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?

Tiada yang tak Mungkin

Masihkah paradigma anda dihantui oleh kelakar ironis nan satir bahwa di Indonesia, orang miskin dilarang sekolah?
Bahwasanya biaya pendidikan nasional yang mahal, membuat persentase kalangan tak mampu untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang tinggi sangat mustahil?

Kewibawaan Negara yang kian Merosot

Kalau kita membaca Pembukaan UUD 1945, kita akan menemukan kata-kata yang penuh makna, yakni negara yang kita bangun ini bertujuan untuk melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Memaknai hikmah Peristiwa Isra’ Mi’raj

Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam bukunya “Membumikan Al Qur’an” mencoba memahami Peristiwa Isra’ Mi’raj yang kita percayai kebenarannya berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang dikemukakan oleh Al-Quran, menerangkan bahwa ada dua hal berkaitan dengan hal ini :

Pertama, kenyataan ilmiah menunjukkan bahwa setiap sistem gerak mempunyai perhitungan waktu yang berbeda dengan sistem gerak yang lain. Benda padat membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan suara. Suara pun membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan cahaya. Hal ini mengantarkan para ilmuwan, filosof, dan agamawan untuk berkesimpulan bahwa, pada akhirnya, ada sesuatu yang tidak membutuhkan waktu untuk mencapai sasaran apa pun yang dikehendaki-Nya. Sesuatu itulah yang kita namakan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. 
Kedua, segala sesuatu, menurut ilmuwan, juga menurut Al-Quran, mempunyai sebab-sebab. Tetapi, apakah sebab-sebab tersebut yang mewujudkan sesuatu itu? Menurut ilmuwan, tidak. Demikian juga menurut Al-Quran. Apa yang diketahui oleh ilmuwan secara pasti hanyalah sebab yang mendahului atau berbarengan dengan terjadinya sesuatu. Bila dinyatakan bahwa sebab itulah yang mewujudkan dan menciptakan sesuatu, muncul sederet keberatan ilmiah dan filosofis.

Bahwa sebab mendahului sesuatu, itu benar. Namun kedahuluan ini tidaklah dapat dijadikan dasar bahwa ialah yang mewujudkannya. "Cahaya yang terlihat sebelum terdengar suatu dentuman meriam bukanlah penyebab suara tersebut dan bukan pula penyebab telontarnya peluru," kata David Hume. "Ayam yang selalu berkokok sebelum terbit fajar bukanlah penyebab terbitnya fajar," kata Al-Ghazali jauh sebelum David Hume lahir. "Bergeraknya sesuatu dari A ke B, kemudian dari B ke C, dan dari C ke D, tidaklah dapat dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa pergerakannya dari B ke C adalah akibat pergerakannya dari A ke B," demikian kata Isaac Newton, sang penemu gaya gravitasi.

Kalau demikian, apa yang dinamakan hukum-hukum alam tiada lain kecuali "a summary of statistical averages" (ikhtisar dari rerata statistik). Sehingga, sebagaimana dinyatakan oleh Pierce, ahli ilmu alam, apa yang kita namakan "kebetulan" dewasa ini, adalah mungkin merupakan suatu proses terjadinya suatu kebiasaan atau hukum alam. Bahkan Einstein, lebih tegas lagi, menyatakan bahwa semua apa yang terjadi diwujudkan oleh "superior reasoning power" (kekuatan nalar yang superior). Atau, menurut bahasa Al-Quran, "Al-'Aziz Al-'Alim", Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. Inilah yang ditegaskan oleh Tuhan dalam surat pengantar peristiwa Isra' dan Mi'raj itu dengan firman-Nya:
“Kepada Allah saja tunduk segala apa yang di langit dan di bumi, termasuk binatang-binatang melata, juga malaikat, sedangkan mereka tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berkuasa atas mereka dan mereka melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)” (QS 16:49-50).

Pengantar berikutnya yang Tuhan berikan adalah: Janganlah meminta untuk tergesa-gesa. Sayangnya, manusia bertabiat tergesa-gesa, seperti ditegaskan Tuhan ketika menceritakan peristiwa Isra' ini, Adalah manusia bertabiat tergesa-gesa (QS 17:11). Ketergesa-gesaan inilah yang antara lain menjadikannya tidak dapat membedakan antara: (a) yang mustahil menurut akal dengan yang mustahil menurut kebiasaan, (b) yang bertentangan dengan akal dengan yang tidak atau belum dimengerti oleh akal, dan (c) yang rasional dan irasional dengan yang suprarasional.

Dari segi lain, dalam kumpulan ayat-ayat yang mengantarkan uraian Al-Quran tentang peristiwa Isra' dan Mi'raj ini, dalam surat Isra' sendiri, berulang kali ditegaskan tentang keterbatasan pengetahuan manusia serta sikap yang harus diambilnya menyangkut keterbatasan tersebut. Simaklah ayat-ayat berikut :
"Dia (Allah) menciptakan apa-apa (makhluk) yang kamu tidak mengetahuinya" (QS 16:8);
"Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" (QS 16:74); dan
"Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit"(QS 17:85); dan banyak lagi lainnya. Itulah sebabnya, ditegaskan oleh Allah dengan firman-Nya :
"Dan janganlah kamu mengambil satu sikap (baik berupa ucapan maupun tindakan) yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang hal tersebut; karena sesungguhnya pendengaran, mata, dan hati, kesemuanya itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban" (QS 17:36).

Apa yang ditegaskan oleh Al-Quran tentang keterbatasan pengetahuan manusia ini diakui oleh para ilmuwan pada abad ke-20. Schwart, seorang pakar matematika kenamaan Prancis, menyatakan: "Fisika abad ke-19 berbangga diri dengan kemampuannya menghakimi segenap problem kehidupan, bahkan sampai kepada sajak pun. Sedangkan fisika abad ke-20 ini yakin benar bahwa ia tidak sepenuhnya tahu segalanya, walaupun yang disebut materi sekalipun." Sementara itu, teori Black Holes menyatakan bahwa "pengetahuan manusia tentang alam hanyalah mencapai 3% saja, sedang 97 % selebihnya di luar kemampuan manusia."

Kalau demikian, seandainya, sekali lagi seandainya, pengetahuan seseorang belum atau tidak sampai pada pemahaman secara ilmiah atas peristiwa Isra' dan Mi'raj ini; kalau betul demikian adanya dan sampai saat ini masih juga demikian, maka tentunya usaha atau tuntutan untuk membuktikannya secara "ilmiah" menjadi tidak ilmiah lagi. Ini tampak semakin jelas jika diingat bahwa asas filosofis dari ilmu pengetahuan adalah trial and error, yakni observasi dan eksperimentasi terhadap fenomena-fenomena alam yang berlaku di setiap tempat dan waktu, oleh siapa saja. Padahal, peristiwa Isra' dan Mi'raj hanya terjadi sekali saja. Artinya, terhadapnya tidak dapat dicoba, diamati dan dilakukan eksperimentasi.

Itulah sebabnya mengapa Kierkegaard, tokoh eksistensialisme, menyatakan: "Seseorang harus percaya bukan karena ia tahu, tetapi karena ia tidak tahu." Dan itu pula sebabnya, mengapa Immanuel Kant berkata: "Saya terpaksa menghentikan penyelidikan ilmiah demi menyediakan waktu bagi hatiku untuk percaya." Dan itu pulalah sebabnya mengapa "oleh-oleh" yang dibawa Rasul dari perjalanan Isra' dan Mi'raj ini adalah kewajiban ; sebab merupakan sarana terpenting guna menyucikan jiwa dan memelihara ruhani.

Kita percaya kepada Isra' dan Mi'raj, karena tiada perbedaan antara peristiwa yang terjadi sekali dan peristiwa yang terjadi berulang kali selama semua itu diciptakan serta berada di bawah kekuasaan dan pengaturan Tuhan Yang Mahaesa.

Oleh karena itu, pendekatan yang paling tepat untuk memahaminya adalah pendekatan imaniy. Inilah yang ditempuh oleh Abu Bakar As Shiddiq, seperti tergambar dalam ucapannya: "Apabila Muhammad yang memberitakannya, pasti benarlah adanya”.

Ketika kebiasaan itu datang !!!

Cerita mulai Pukul 17.56 WITA menjelang magrib...
Pulang ke rumah dengan semua rencana yang terurut jelas dalam pikiran.
Menyejukkan badan dengan air PDAM yang jernih, kemudian menunaikan tunggakan kewajiban sepanjang hayat, makan sambil nonton berita di TV.
Disinilah dimulai kebiasaan itu. 
Secangkir kopi susu, dan kue kering telah kupersiapkan untuk mendukung rencanaku...
Mulai nyalakan laptop, untuk memulai mengerjakan semua rencana. 
Putar lagu kesayangan "karma" dari Kamelot, dan sedikit game Mahjong Titans.

Ada sambungannya...


Panas...
Udara begitu panas...menyengat..
Tidak lama kemudian turun hujan secara tiba-tiba,
aneh...dulu tidak seperti ini...

Ingin kumenangis

Menatap matamu membuatku terharu....
Maafkan....atas segalanya....
Semua karena keterpasaan dan keterbatasanku saja
aku perlu menangisinya....

Mengapa saya?

Arthur Ashe adalah petenis kulit hitam dari Amerika yang memenangkan tiga gelar juara Grand Slam; Amerika Open (1968), Australia Open (1970), dan Wimbledon (1975).

Pada tahun 1979 ia terkena serangan jantung yg mengharuskannya menjalani operasi by pass.

Tidak Seperti Yang Terlihat

Dua orang malaikat berkunjung ke rumah sebuah keluarga kaya. Keluarga itu sangat kasar dan tidak mengijinkan kedua malaikat itu bermalam di ruang tamu yang ada di rumahnya. Malaikat tersebut ditempatkan pada sebuah kamar berukuran kecil yang ada di basement.

Ada hikmah....

Pada Suatu hari ada seorang yang hidup di pulau kecil akibat kapalnya yang ia tumpangi karam. Dia berdoa setiap hari, meminta Tuhan mengutus seseorang untuk menyelamatkannya. Setiap hari ia mencari-cari bantuan di pulau kecil tersebut dengan berbagai cara.  Namun tak jua ada pertolongan yang datang. 

Penyesalan

“Pikiran dapat mengubah Surga menjadi Neraka ataupun sebaliknya”

Pikiran ku terusik oleh rangkaian kata “Hidup Tanpa Penyesalan”. Bisakah aku melakukannya? Selalu saja ada hal yang kita sesali. Baik itu perkataan yang diucapkan, tindakan yang dilakukan, pilihan yang diambil,